Bahagia itu tak terukur dengan angka maupun huruf.
Hari ini adalah jadwal pertamaku mengajar privat di semester kedua anak didikku. Sudah hampir dua tahun ini aku mengajarinya.
Aku bertemu galih di semester kedua kuliahku. Aku dipertemukan oleh orang lain yang memintaku untuk mengajar galih.
Hari pertama aku mengajar galih, ibunya mengatakan padaku bahwa dia adalah anak yang 'lambat'. Responku waktu itu biasa saja mendengar kata 'lambat'. Ya, galih lambat dalam mengerti, memahami, dan apapun tentang pelajaran sekolahnya ia tidak cepat tanggal. Kecuali fiqh.
Seminggu dua minggu aku mengajarinya dengan intonasi suara yang rendah. Tapi lama kelamaan aku tidak sabar mengajarinya. Karena, hampir tak satupun kata2 yang ku ucapkan didengar olehnya.
Aku harus mengubah cara mengajarku. Waktuku tidak banyak. Hanya 2 tahun. Aku harus merubahnya walau sedikit. Sedikit saja.
Alhamdulillah. Akhirnya dengan metode mengajarku yang baru aku bisa sedikit merubah galih. Kini dia sedikit hafal perkalian, meski harus di paksa2, sudah gak ngompol lagi, cara berpikirnya juga sedikit agak cepat.
Malam ini adalah malam pertamaku mengajarnya di semester 2. Saat aku datang ke rumahnya, ayahnya berbicara kepadaku tentang tahap kemajuan nya kali ini. Beliau mengatakan agar aku memberi galih masukan2 lagi. Kiranya, galih ini perlu sedikit ditegasi kalau dalam belajar.
Dari yang semula ia selalu mendapatkan urutan ke 35 di kelasnya, kini ia berada di urutan ke 27. Aku bangga padamu galih. Semoga dengan berlalunya waktu nanti, kamu bisa membanggakan kedua orang tuamu.
Sidoarjo, 4 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar