Selasa, 05 Januari 2016

Maticgiclove

Hampir 90% orang2 yang berada di sekitarku membenci matematika. Matematika itu jengkelin bin jengkol. Ternyata virus turun temurun sejak zaman mbah kakek nenek buyut ini juga mampir dalam hatiku. Bagaimana tidak?!. Waktu kelas 6 sd aku berusaha mati2an menghitung tugas matematika dari pak guruku yang super duper killer, ku kerjakan sesuai rumus yang beliau tulis dan jelaskan di papan. Tapi tetap saja nilaiku tak berubah. Aku sering dapat telur, mungkin karena aku doyan makan telur kali ya. Sejak saat itu aku mulai versus sama yang namanya matematika. Aku gak bakalan berusaha mati2an lagi buat mengerjakan matematika, TITIK!.

Matematika ikut andil dalam turunnya peringkatku waktu itu. Dasar jengkelin bin jengkol.

Selain jadi haters buat matematika, aku juga jadi benci sama turunannya matematika. Kecuali menghitung uang (xixixixixixi  :c normal kali, semua orang mata duitan).

Tapi, entah kesambet apa aku waktu itu. Padahal aku sudah berjanji pada diri sendiri u/ tidak jatuh ke lubang yang sama u/ kedua kalinya, jatuh cinta sama matematika.

Masa2 MMA adalah masa2 terhebatku. Masa2 penuh perjuangan. Dan akhirnya aku terpaksa jatuh cinta kepada matematika. Puft.....

Bosan?

Enggak. Entah kenapa jatuh cinta keduaku kepada matematika tidak se-membosankan dulu. Entah kenapa kali ini aku kembali
berjuang u/ memenangkan hatinya agar dia mau berpihak kepadaku. Ku pupuk kecintaanku pada matematika setiap hari. Kok bisa? Ya bisa lah, lah aku tiap hari tidur sama dia, dimana2 aku selalu latihan agar perjuangan terakhirku di MMA nggak sia2.

Karena setiap hari kemana2 barengan terus, akhirnya cintaku kali ini ke matematika agak langgeng. Meski kadang2 aku kesulitan u/ mengerti jalan pikirannya.

Di tahun ketiga setelah lulus dari MMA, kini aku kembali intens dengan matematika. Perlahan aku menghitung angka demi angka dengan anak didikku. Aku kembali menyadari, bahwa kini aku mulai jatuh cinta lagi kepada matematika.

Matematika itu hidup. Ya, ia hidup. Dia adalah sesuatu yang diam tapi  penuh emosi dan sedang mencari seseorang yang sabar dan penuh teliti untuk menapaki jejak bersamanya. Duh matematika, romantis sekali kau ini.

Apakah setelah tiga kali jatuh cinta dengan matematika aku akan memutuskan u/ tinggal bersamanya? Haruskah kami saling melengkapi u/ kebahagiaan seseorang, atau bahkan banyak orang di luar sana?.

Ish, gak usah serius2 gitu deh bacanya.

Sidoarjo, 6 Januari 2016

Marisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar