Rabu, 14 Oktober 2015

Wujudkan Mimpi

Setiap perjalanan kehidupan seseorang pasti tak luput dari orang lain disekelilingnya. Begitu pula kisah ini.
Sebut saja Dea, seorang anak hyper active yang selalu ingin mewujudkan apa yang menggelora dalam jiwanya. Sering ia melakukan segala sesuatu sendiri. Berhasil atau tidak, dia sendiri yang menanggungnya sendirian. Senang, susah dan berbagai perasaannya tak dapat dideskripsikan dengan baik karena ia tak mampu menyalurkannya dengan cara yang sistematis. Abstrak.
Berkali-kali bersosialisasi ia selalu merasa gagal karena ia tak mendapatkan respon positif dari teman2nya. Hingga suatu hari ia memutuskan untuk fokus mengejar mimpinya sendiri, menjadi pemeran utama dalam setiap kehidupannya. Orang lain hanya figuran, karena ia takkan benar2 mendukung segala ide atau apapun yang dia impikan dan apa yang ingin ia wujudkan.

Beberapa mimpi dan ambisi kecilnya tercapai. Selangkah demi selangkah ia bangkit dari perasaannya menggantungkan diri pada orang lain. Ia ingin agar orang lainlah yang membutuhkannya. Karena ia yakin pasti akan ada hasil yang luar biasa besar ketika ia berfokus dan berniat untuk mewujudkan.
Cayoo Dea. Selamat Berjuang!

Sabtu, 26 September 2015

City Tour

City Tour
Satnight in Jombang (260915)

Sabtu malam selepas isya' adik sepupu saya yang masih kelas 1 MI mengajak saya jalan2 di area polres.
Awalnya saya tidak mau karena trauma ketemu sama yang namanya 'polisi'. Tapi si kecil terus memaksa saya. Okelah. Dengan malas saya mengayuh sepeda ke tempat car free night. Benar saja, polisi 'bertebaran' di jalan raya. Ada panggung pagelaran wayang, ludrukan yang dibawakan presenter berbaju polisi (sepertinya presenternya jtv, medok buanget :) ) serta band2 lokal dari anak2 SMA setempat.
Menangkis anggapan saya tentang polisi secara global, para polisi dari polres di belakang rumah nenek saya ini ramah2. Menyebar dari ujung ke ujung menyapa warga dan pengunjung car free night kali ini.
Huft...trauma saya untuk sementara malam itu sedikit hilang.

Bersambung.....
Visit Jombang

Selasa, 18 Agustus 2015

Perbedaan

Apa yang sedang saya pikirkan?
Saya sedang memikirkan perbandingan keaktifan saya di Bahrul Ulum, Kampus tempat saya menuntut ilmu sekarang dan lingkungan yang saya tempati saat ini (mungkin lain kali bakalan pindah, :)) .

Di Bahrul Ulum, tepatnya di Al Mardliyah, meski termasuk salah satu pesantren dengan aturan yang cukup ketat saya tergolong santri yang aktif dalam berorganisasi, baik di luar maupun di dalam pesantren. Saya selalu lolos untuk mengikuti kegiatan apapun dan mendapat restu Bu Nyai. Karena memang saya tidak pernah melanggar peraturan apapun.

Teman2, bahkan kakak2 tetua di pesantren pun tahu akan mobilitas saya yang cukup tinggi (meski 'suara' saya tidak pernah mendominasi). Yang saya rasakan saat berada dalam sebuah organisasi di pesantren adalah komitmen serta bentuk kerja keras yang tidak pernah main-main. Yang tua selalu membimbing yang muda untuk terus berproses dalam suatu organisasi, karena mereka (yang muda) mulai di kader menjadi pemimpin-pemimpin yang bertanggungjawab nantinya. Manisnya pengkaderan di pesantren. Beruntung saya pernah merasakannya.
Dalam 3 organisasi, saya bekerjasama dengan teman-teman sebaya saya. Dan semuanya sama. Sama2 bekerja dengan komitmen. Jujur dan saling membantu satu sama lain (terutama anggota baru).

Kampus.
Saat ini saya tengah menjalani semester 5 di salah satu kampus jujukan santri Bahrul Ulum di Surabaya. Ketidaktertarikan saya berorganisasi di kampus dikarenakan sebuah organisasi yang merasa besar berbuat semena2 saat orientasi mahasiswa baru. Sejak saat itu pula saya mempunyai sakit asma. Setahun setelah orientasi saya mendapat sedikit saran dari kakak saya, "meskipun kamu anti dengan organisasi di kampus, setidaknya ikutilah salah satu untuk mengetahui bagaimana cara mereka memainkan birokrasi". Nilai adaptasi saya di kampus terbilang lumayan. Beberapa kawan mengajak saya menjadi panitia acara ini dan itu. Organisasi a-z. Tapi saya tidak mendapatkan ruh dari organisasi maupun event tsb.
Berawal dari bisikan kakak saya tadi, kini saya tahu bagaimana mahasiswa2 di sekitar saya (yang tidak jujur) memainkan birokrasi.
Hm........

#kampungku.
Disini sedikit lebih baik. Karena tak ada unsur2 apapun yang buruk yang saya dapatkan disini.
Pak Rt kami sekarang adalah seorang tentara yang sangat supel dan ramah. Bahkan beliau mencoba mencari terobosan baru dalam pembagian hadiah gerak jalan agustusan di rt kami, agar semua warga yang dinaunginya mendapatkan hadiah. Minimal per KK.
Namun, koordinasi antara remaja satu dan yang lainnya sedikit kurang disini.

Note: Ruh dari organisasi adalah komitmen dan kejujuran serta kepercayaan. Jika kau tidak mendapatkannya dalam sebuah organisasi, hal itu layaknya sayur asam tanpa gula dan garam (try it!).

Minggu, 07 Juni 2015



life is simple. if u make choices, don't look back

pernah menyesal mengambil keputusan untuk masa depan?. sama. saya juga pernah.
akan tetapi lambat laun saya sadari, bahwa jika saya tidak membuat sebuah keputusan, maka saya akan terus menjadi seseornag yang akan semakin buruk dan sombong. 

hidup itu pilihan.

ya, itu memang benar. jika kau tak memilih untuk menatap masa depan, maka kau akan terkungkung dalam gelap dan kelamnya masa lalu. how lucky me. until this time i can write and share my experience. personal experience. 

saya memutuskan keluar dari asrama. saya merasa puas dengan apa yang saya peroleh saat itu. dan mengatakan dalam hati bahwa saat itu juga, setelah saya keluar dari asrama, saya akan bisa menaklukkan dunia. kerdil sekali pemikiran saya saat itu. hanya bagian kecil saja yang pernah saya jumpai di dunia ini. 

ketika dunia yang sebenarnya menantang saya dengan membusungkan dadanya, saya mengalami cuture shock. entah apalah itu namanya. sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu saya mulai terbanting dengan kenyataan yang ada. bahwa saya bukan siapa-siapa. tak ada satu skillpun yang saya miliki. 

dan akhirnya saya mulai mencari. apapun itu untuk mengkorelasikan dengan apa yang telah saya pelajari sebelumnya. semakin dilema. namun seseorang dibelakang saya selalu membentengi punggung saya. ia melarang saya untuk pantang menyerah dan harus menghadapinya. hadapi. hadapi. hadapi. 

saat ini saya masih mencari puzzle2 ilmu yang berserakan karena bom atom waktu yang telah saya ciptakan sendiri. 

sebuah film tak hanya menyuguhkan gambar. namun, pastinya seluruh manusia tahu apa hal penting yang terdapat dalam sebuah drama fiksi maupun non fiksi. AMANAT CERITA.

malam ini, sambil sekolah online saya mengambil kutipan percakapan antara Han dan Sean. menampar saya dengan apa yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah manapun. saya masih miskin. maukah anda membantu saya agar saya kaya? karena kaya tak hanya dari segi harta. 


Jumat, 19 Desember 2014

Melemahnya Rupiah

rabu, 17 desember 2014.


Pagi itu d pulau merah, sambil menyeduh teh hangat samar-samar ku dengarkan berita dari salah satu stasiun televisi swasta nasional. Melemahnya Rupiah. Para pengamat pergerakan ekonomi Indonesia  berkali-kali mengomentari, lebih kepada mengkritisi, perekonomian Indonesia sejak pak Jokowi memimpin Indonesia.

aku menyimak pemberitaan itu dengan seksama. sedikit memper dengan pembahasan yang aku perlukan untuk tugas hukum perikatan jaminan. Tapi, apa hanya mengkritik saja pak komentator?. harapanku, aku sendiri bisa membantu perekonomian Indonesia meskipun belum pake factoring, leasing dkk. lanjut esok lagi,  


back to wednesday, 14 januari 2015


ekonomi menjadi salah satu hal yang urgen dalam kehidupan setiap manusia. mengapa seperti itu?. karena dengan ekonomi saja tak mampu melengkapi apa yang ada dalam diri manusia seluruhnya. back again. kondisi negaraku adalah kondisiku. sebagai seseorang yang sedang menapaki jenjang pra karir dan pendidikan aku dibingungkan oleh berbagai hal dan regulasi pemerintah yang tidak hanya membingungkanku saja, tapi juga banyak orang awam lainnya. tapi toh banyak dari mereka yang tidak perduli. bukan karena tidak perduli akan keadaan negaranya, melainka menginginkan keadaan mereka membaik terlebih dahulu barulah mereka menyongsong ini bersama. termasuk aku juga. belum banyak sumbangsihku untuk negara ini. hanya beberapa kali saja mengajari anak-anak kecil di sekitar rumahku untuk membaca dan menulis, dan terus bermimpi untuk kebaikan dan masa depan negeriku. 

hampir 85% penduduk negeriku adalah pegawai. gaji bulanan mereka banyak yang tidak mampu 'memuat' kebutuhan mereka sehari-hari. tangan-tangan luar negeri telah ikut campur masalah rumah tangga negeriku. kini pun ia menghandle semuanya. sungguh aku tidak nyaman dengan keadaan ini. semoga presidenku kali ini tidak berbuat aneh aneh, melainkan berbuat yang genah untuk kami semua. 


mungkin ada baiknya terapan zakat dan pajak Islam di praktekkan di negeriku ini. layaknya pemerintahaan saat di bawah kendali Umar bin Abdul Aziz. shalawat dan salam bagimu wahai Rasulku Muhammad Saw.